Seri Ngaji Kitab AL-HIKAM karya Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary (648H-709H/1250M-1309M)
(biografi: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/05/24/lmxtj1-tokoh-sufi-syekh-ibnu-athaillah-penulis-kitab-alhikam)

Jangan Memburu Urusan Allah

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary :
“Kesungguhanmu terhadap hal-hal yang sudah dijamin oleh Allah, dan sikap teledormu terhadap hal-hal yang dituntut (kewajiban) oleh Allah (baik perintah maupun larangan) adalah bukti akan kekaburan mata hatimu.”

Pada seri Al-Hikam terdahulu, kita dihadapkan pada soal cita-cita hamba dan takdir Allah. Polemik psikologis manusia sejak zaman dulu hingga dewasa ini, apakah manusia memiliki kehendak bebas dalam menentukan nasibnya, atau sebaliknya semua itu sudah ditentukan oleh Allah. Di balik semua itu ternyata ada suatu belenggu yang memenjarakan jiwa manusia, sehingga manusia menjadi “budak” sesuatu selain Allah.

Di sini, Ibnu Athaillah As-Sakandary mengingatkan agar para penempuh jalan sufi jangan sampai terjebak hatinya untuk memburu hal-hal yang sudah dijamin oleh Allah, seperti soal rizki. Hamba Allah sudah dijamin rizkinya oleh Allah, dan karena itu ambisi memburu rizki bisa mengaburkan mata hati. Kalau kita sedang bekerja, bukan lagi dalam kerangka mencari rizki itu sendiri, tapi kerja adalah kerja. Kerja adalah ikhtiar yang diperintahkan oleh Allah. Dan kerja adalah sesuatu yang menciptakan di mana seorang hamba dengan hamba lainnnya saling bantu membantu, tolong menolong, dan berinteraksi bathin dengan sesama makhluk Allah yang didasarkan oleh rasa cinta pada Allah. Manusia bekerja dalam perspektif sufistik adalah dalam kerangka merespon menifestasi Cinta Allah itu sendiri, sehingga manusia terbebaskan dari rasa berambisi untuk meraih dunia, bebas dari sikap tamak terhadap hasil-hasil kerja, dan bebas dari belenggu nafsu di balik suksesnya kerja.

Di lain pihak, keteledoran manusia terhadap kewajiban-kewajiban yang dituntut Allah beriringan dengan ambisinya untuk memburu hal-hal yang sudah dijamin Allah.

Allah berfirman :
“Di mana pun makhluk tidak akan menanggung beban rizkinya, tapi hanyalah Allah yang memberi rizkinya, termasuk juga kamu semua”.

Keteledoran adalah bentuk lain dari sikap malas, sikap menentang secara halus, dan sikap sombong yang tersembunyi dalam hati sehingga yang menyeret manusia pada kealpaan mengingat Allah.

Mestinya, kesadaran penuh bahwa manusia adalah makhluk lemah sebagaimana yang difirmankan-Nya, sudah sangat layak jika manusia ditanggung rizkinya oleh Allah. Manusia tinggal menjalankan saja perintah dan menjauhi larangan-Nya, tanpa perlu lagi berfikir, apakah menjalankan perintah Allah atau memenuhi panggilan-Nya itu bisa mendatangkan rizki atau tidak. Jika seorang hamba masih memburu rizki yang sudah dijamin Allah, berarti hamba tadi mencoba mencampuri urusan Allah. Suatu tindakan yang sungguh “tidak sopan”, apalagi tindakan tersebut jelas intervensi terhadap Hak-hak Allah.

Rahasia di balik kepasrahan hamba kepada Allah dalam soal rizki dan hal-hal yang sudah ditanggung oleh Allah, serta ketekunan seorang hamba dalam merespon tuntutan Allah, bisa membukakan mata hati kita untuk melihat kebenaran, kenyataan dan kejelasan akan hakikat semuanya. Tapi sebaliknya, jika seorang hamba mengintervensi urusan Allah, kemudian lebih banyak menuntut Allah sementara kewajibannya terabaikan, akan mengalami keburaman mata hati yang mengakibatkan kebutaan hatinya. Na’udzubillah min dzaalik.

Kesimpulannya, siapa pun diperkenankan untuk berusaha, bekerja, dan berikhtiar, tapi jangan sampai membuat dirinya terlena dengan mengabaikan perintah dan larangan Allah. Artinya, jangan sampai dunia ikhtiar dan dunia kerja itu memasuki seorang hamba yang sudah menjadi “Rumah Allah” sebagaimana seringkali disebutkan “Hati hamba yang beriman adalah Baitullah”.

Jangan sampai kita semua terjebak pada suatu bangsa atau golongan yang diprediksi oleh Rasulullah SAW: “Betapa (celaka) yang menimpa suatu kaum, mereka yang menghormati orang-orang pemburu kekayaan, menganggap remeh orang-orang yang tekun beribadah, mengamalkan Al-Qur’an sesuai dengan selera dan kepentingan nafsunya, sedangkan hal-hal yang bertentangan dengan nafsunya justru mereka tinggalkan. Pada saat seperti itu mereka beriman pada sebagian (isi) Al-Qur’an dan mengingkari sebagian yang lain…..(al-hadits)”.

Mestinya, kita semakin yakin bahwa hamba Allah yang kafir dan menentang Allah saja tetap diberi rizki. Apalagi yang beriman, yang menuju kepada-Nya dan yang menyaksikan-Nya.

Ungkapan Al-Hikam itu bisa dijadikan sebagai etos kerja kita. Manusia yang sedang bekerja punya kecenderungan menuntut hak-haknya, sementara kewajibannya seringkali terabaikan. Begitu juga seorang pengusaha cenderung menuntut kewajiban-kewajiban para pekerjanya, sementara hak-hak para pekerja justru seringkali terabaikan. Padahal sikap demikian itu mengarah pada kekaburan dan optimisme masa depan usaha itu sendiri.

Karena itu, ciptakanlah nuansa yang merdeka, interaktif dan tanpa belenggu ketakutan. Optimisme harus diciptakan terus menerus melalui jaminan masa depan, agar para pekerja mampu bekerja dengan penuh rasa cinta dan pengabdian yang tulus.